Back to top





  • fasilitaspelayanan
  • instalasigawatdarurat
  • Ruangicupicu
  • beranda
  • perusahaan
  • ambulanceventilator
  • kamaroperasi




Rumah Sakit Halal


Rumah Sakit Halal? Mungkin terdengar aneh di telinga kita. Kalau Halal yang berkaitan dengan produk makanan atau beberapa produk obat mungkin lazim didengar. Mendengar Rumah Sakit Halal mungkin juga akan mengaitkan pikiran kita kepada obat-obatan yang dikonsumsi di rumah sakit sudah memiliki sertifikat halal. Bisa jadi begitu meskipun lebih banyak tidak tepatnya.

Tentang Rumah Sakit Halal, sebaiknya kita memahami lebih dahulu apa yang dimaksud dengan Halal dan apa yang dimaksud sebagai Rumah Sakit.


Halal perdefinisi diartikan sebagai dibolehkan atau diharuskan menurut Syariat Islam, lawan dari kata ini adalah haram yang berarti tidak dibolehkan atau dilarang. Menurut DR. Yusuf AlQardawi, halal menurut syariat dapat disimpulkan sebagai sesuatu yang diharuskan oleh Allah SWT bagi manusia untuk memakan, memakai, bermuamalah dan sebagainya, dimana batasan halal adalah segala sesuatu dan mengenai segala perkara dimana tidak ada Ayat Qur'an, Hadist, Fatwa dan Fiqih yang melarangnya. Merujuk kepada hal tersebut, cakupan halal dalam Islam bukan saja berkaitan dengan makanan dan perbuatan, bahkan meliputi sistem ekonomi, perdagangan, pemerintahan dan seluruh aspek kehidupan manusia.


Sedangkan Rumah Sakit perdefinisi menurut Wikipedia adalah House of Hospitality yang berarti tempat perawatan kesehatan yang menyediakan pengobatan bagi pasien oleh staf profesional dan peralatan yang khusus. Menurut Keputusan Menteri Kesehatan RI No 983/MenKes/SK/XI/1992, rumah sakit merupakan suatu unit yang mempunyai organisasi teratur, tempat pencegahan dan penyembuhan penyakit, peningkatan dan pemulihan kesehatan penderita yang dilakukan secara multidisiplin oleh berbagai kelompok profesional terdidik dan terlatih, yang menggunakan prasarana dan sarana fisik.


Bila digabungkan, Rumah Sakit Halal adalah sebuah institusi pelayanan publik yang mempunyai organisasi teratur yang menyediakan perawatan kesehatan dan pemulihan pasien yang dilakukan secara multidisplin oleh berbagai staf profesional dan terlatih yang mempergunakan sarana dan peralatan khusus yang operasional pelayanan dan manajemennya dijalankan menurut panduan Syariat Islam.


Bila disimpulkan yang namanya Rumah Sakit Halal adalah sebuah rumah sakit yang prinsip-prinsip bisnis, tata kelola manajemen dan tata kelola operasionalnya mengacu kepada prinsip-prinsip ajaran Islam, dan mengikuti peraturan pemerintah di lokasi rumah sakit tersebut beroperasi.


Singkatnya bila sebuah Rumah Sakit ingin menjadi dan bisa disebut sebagai RUMAH SAKIT HALAL, setidak-tidaknya rumah sakit tersebut melaksanakan berbagai tuntunan HALAL berikut ini :

  1. Pelayanan Medis Halal: meliputi pelayanan konsultasi medis dan tindakan medis yang tidak melanggar batasan syariat, transparan dan beretika Islam. Pemberian obat-obatan dan makanan yang tidak mengandung unsur haram maupun syubhat. Beberapa rumah sakit di Inggris, Denmark dan India bahkan sudah melaksanakan hal ini dan memperoleh sertifikat halal.
  2. Pelayanan Non Medis Halal: meliputi pelayanan ruangan, fasilitas ruang dan sarana ibadah, pelayanan kasir, sistem informasi yang transparan, sistem biling dan pembiayaan halal (tidak mengandung ribawi).
  3. Manajemen Operasional Halal: meliputi manajemen keuangan yang transparan dan terhindar ribawi, sistem purchasing dan stok sesuai syariat Islam, sistem kerjasama dan perjanjian bisnis dengan vendor dan suplier mengacu kepada prinsip Islam, misalnya kerjasama dengan Farmasi dan Asuransi Kesehatan. Yang mengherankan, prinsip-prinsip Islami ini justru sudah diterapkan dalam kontrak kerja yang dibuat oleh perusahaan Asuransi Asing yang beroperasi di Indonesia.
  4. Manajemen SDM Halal: meliputi sistem ketenaga kerjaan dan sistem penggajian yang berpandu pada hukum Islam. Sebagai contoh bahwa karyawan harus menerima haknya sepadan dengan jasanya dan harus dibayarkan tepat waktu, sebelum keringatnya kering. Perjanjian kerja pun harus dibuat menurut metoda yang dituntun ajaran Islam, sehingga dapat menjadi adil bagi karyawan dan perusahaan.
  5. Sumber Dana Halal: meliputi pengelolaan keuangan yang berbasis syariah dan dibayarkan zakat dan pajaknya. Pengelolaan ini harus demikian transparan dan terhindar dari unsur ribawi, semisal metode atau harga yang berbeda bagi pelanggan tunai dengan pelanggan nontunai.


Sampai saat ini belum ada standar baku yang komprehensif untuk sertifikasi Halal sebuah rumah sakit yang ditetapkan suatu lembaga sertifikasi semisal MUI (Majelis Ulama Indonesia), namun untuk masa datang hal ini perlu segera dibahas dan ditetapkan. Hal ini penting sebagai bentuk perwujudan penjaminan hak asasi manusia dan hak konsumen, khususnya konsumen muslim.


Baca juga disini.



Kembali ke halaman sebelumnya